Senin, 02 Juni 2014

My Belitung Destination - First Destination : SD MUHAMMADIYAH


Panorama luar biasa yang sungguh menggugah jiwa.
     Hari yang cerah, saya sudah siap berjalan menuju Bandara Soekarno-Hatta bersama tante, nenek dan 2 sepupu saya untuk berlibur. Destinasi kami kali ini adalah sebuah provinsi yang sangat terkenal dengan keindahan pantainya dan panorama yang menakjubkan. Provinsi yang dikenal dengan Negeri Laskar Pelangi, Belitung. 

     Perjalanan kami diawali dengan sampainya kami di H.A.S. Hanandjoeddin Airport dengan selamat pada pukul 08:00 pagi. Disana kami lalu menyantap sarapan di sebuah warung yang sederhana didekat bandara namun merupakan destinasi wajib para turis domestik maupun mancanegara. Yaitu Warung Mak Sanah Cave Senang. Santapan yang wajib dicoba adalah Mie Belitung. Memang porsinya menurut saya pribadi kecil namun lezat haha. Perjalanan kami lanjutkan menuju Hotel Pondok Impian yang merupakan tempat kami bernaung selama berlibur disana. Kamar yang kami tempati adalah Kamar Kuda Laut.
     Tanpa perlu berlama-lama, kawan dari Tante kami menunjukkan beberapa destinasi-destinasi yang patut dikunjungi. Yaitu pertama kami mengunjungi SD Muhhamadiyah yang merupakan SD tertua di Belitung. Namun yang kami datangi adalah replika dari SD tersebut karena bangunan yang asli telah runtuh. Lokasinya yang panas dan berada diatas bukit pasir menambah kesangaran daerahnya yang mungkin bersuhu diatas 32 derajat.
SD Muhhamadiyah, SD Tertua di Belitung.
Disana masih dengan jelas terpampang kelas yang sangat ironis dengan bangku dan lemari yang sudah sangat reyot, Papan tulis yang usang dan ada ruangan kepala sekolah yang sudah usang dan ujung bangunan yang disanggah dengan 2 batang pohon yang besar. Disana ada juga sumur dan kamar kecil yang sudah rusak. Melihat hal tersebut membuat saya langsung merasa sangat beruntung bisa bersekolah di sekolah yang layak. Saya lalu mengingat cerita seorang penulis yang sangat menginspirasi saya yaitu Andrea Hirata yang menceritakan perjuangan Ibu Muslimah yang berjuang mengajar anak-anak Laskar Pelangi. Kesabarannya menunggu 10 anak yang menentukan masa depan sekolah tersebut. Lalu ketulusan hati seorang guru yang patut saya acungi jempol. Kesederhanaan yang sungguh menggugah hati membuat saya terus mengenang keindahan dibalik hancur dan bobroknya sekolah di Gantung, Belitung Timur ini.

Ikuti perjalanan saya berikutnya hanya di "Dude Also Write"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar