Senin, 25 April 2016

About Green Soldier Community


"We Fight For Earth"



Kami berperang melawan kerusakan lingkungan, kami Green Soldier Community (GSC). Komunitas ini terbentuk sejak tanggal 22 April 2010 dari sebuah perkumpulan mahasiswa Jurusan Biologi yang berusaha untuk menciptakan sebuah perkumpulan  para generasi muda yang positif dan dapat membawa perubahan bagi lingkungan.  




Komunitas ini berfokus pada pendidikan lingkungan hidup non formal, dimana semua anggota bisa saling memberikan pengetahuan dan pengalaman masing-masing mengenai cara menjaga lingkungan. Visi GSC adalah terciptanya sebuah komunitas yang dapat menyatukan generasi muda yang peduli dan mencintai bumi seperti dirinya sendiri.    

Misi dari GSC adalah mengajak masyarakat khususnya generasi muda untuk peduli terhadap lingkungan di sekitarnya, memberikan pengetahuan yang lebih terhadap pentingnya menjaga lingkungan hidup, menjadikan seluruh anggota GSC sebagai duta-duta representatif perubahan lingkungan di mata dunia. 

Tujuan utama dari GSC adalah ingin menjadi wadah dan teladan bagi para generasi muda untuk dapat mengapresiasi keberlangsungan lingkungan hidup dan bisa mengatasi masalah perubahan iklim dengan cara yang modern sehingga mereka dapat bergerak untuk melakukan sebuah tindakan secara kolektif dan berkelanjutan demi terciptanya lingkungan Indonesia yang lestari. GSC bukan sekedar komunitas saja.

Kami ingin Anda menjadi salah satu bagian dari perubahan yang positif ini, untuk Anda yang ingin menjadi donatur untuk Green Soldier Community dan ingin mengetahui informasi lebih lanjut dapat menghubungi Contact Person kami. 

Contact Person:
Stefanus Ronaldo
Ketua Green Soldier Community
0888-0123-4567
Stefanusronaldo.gsc.org

Sumber Foto : Design by Stefanus Ronaldo
Sumber Video : https://www.youtube.com/watch?v=94nSXMqrLGc

Senin, 18 April 2016

UBM Gelar Pameran Fotografi & Essay Perdana

Para pengunjung Pameran Fotografi & Essay perdana di The UBM Plaza, Universitas Bunda Mulia (19/04) tampak mengomentari salah satu karya fotografi di pameran tersebut. 


Banyak kejadian yang menggetarkan jiwa masyarakat Indonesia, salah satunya terpancar dari seorang ibu yang menutup mulutnya dengan kerudung melewati debu dan asap yang mengepul sambil menatap ironis pada rumahnya yang telah rata dengan tanah akibat penggusuran di daerah kampung luar batang,  Jakarta Utara. Selain kisah tersebut, beberapa peristiwa lainnya telah diabadikan lewat 60 karya fotografi terbaik dalam Pameran Fotografi & Essay.

Pameran Fotografi & Essay  diadakan dalam rangkaian Social Science Week 2016 yang diselenggarakan sejak tanggal 18 April – 23 April 2016 atas kerjasama Fakultas Ilmu Sosial & Humaniora UBM, SEMAFISH, COMRADE HMJ IKOM, serta Club Ilmu Komunikasi yaitu Journal Is Me & Click Photography Club. Acara ini disambut baik oleh seluruh Civitas Akademika Universitas Bunda Mulia.

Tema SSW2016 kali ini mengangkat tema “Earth Focus on The Future” yang bertujuan untuk mengajak para warga Universitas Bunda Mulia untuk lebih fokus pada usaha penyelamatan keberlanjutan lingkungan di masa depan. Tentunya karya-karya yang dipamerkan merupakan karya para mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Bunda Mulia yang telah diseleksi sebelumnya oleh Tim Dosen & panitia Pameran.

Seperti ratusan foto yang telah dikumpulkan dari mahasiswa yang mengikuti kelas Photography Journalism, dipilih 60 karya fotografi dan dari 120 karya essay dari kelas Media Online dipilih 20 karya essay untuk dipamerkan pada Pameran Foto & Essay. Setelah  itu, pengunjung bisa melakukan voting, lalu pemilik voting tertinggi akan diberi apresiasi berupa gelar juara 1,2, dan favorit serta hadiah yang menarik.

Pameran Fotografi & Essay ini baru perdana diadakan namun diharap mampu menjadi media pembelajaran.Walau baru perdana, pameran ini terlihat cukup ramai dengan para mahasiswa yang menikmati hasil karya fotografi & essay para mahasiswa yang telah terpilih. Beberapa dari mereka ada yang menunjuk-nunjuk foto-foto tersebut sambil sedikit berkomentar mengenai foto yang terpampang di dinding pameran tersebut.

Yuri Alfrin Aladdin, SE., M.Si selaku Pembina Pameran Fotografi & Essay menyatakan bahwa, “Pameran fotografi dan essay ini murni diselenggarakan atas ide dan kreasi oleh mahasiswa UBM dan diperuntukkan juga untuk mahasiswa UBM, tugas pembina hanya untuk mengarahkan dan mewujudkannya”.

 “Pameran ini bertujuan untuk membangkitkan kesadaran mahasiswa & masyarakat untuk menjaga lingkungan”, ungkap Ketua Click Photography Club, Jessica Inestasia. Albeth Oktafinus selaku salah satu panitia Pameran Fotografi & Essay juga menuturkan sungguh besar harapannya akan acara ini bisa berjalan lancar dan dapat memberikan pembelajaran agar bisa lebih mengembangkan kualitas pameran ini di tahun berikutnya.

 Namun diakui ada beberapa kekurangan acara ini yang sangat disayangkan adalah adanya kekurangan dana, juga kurangnya persiapan dari panitia dan materi foto yang masih kurang memuaskan dan belum layak dipamerkan sehingga acara ini berjalan kurang maksimal. “Sayang sekali acara ini packaging-nya kurang bagus, kurang menarik”, ujar Daniel Alexander, salah satu pengunjung yang juga merupakan mahasiswa UBM.
 
Acara yang akan direncanakan menjadi sebuah event berkelanjutan ini semoga tidak pernah puas akan pencapaian dan terus memperbaiki kualitas penyelenggaraannya. Selain itu semoga acara ini juga terbuka bagi umum sehingga karya-karya Essay dan foto dari pihak luar bisa turut ditampilkan. Namun sisi positif yang bisa kita ambil adalah kita sebenarnya bisa menyelenggarakan pameran dengan biaya minimum asalkan ada kesadaran swadaya.

Sumber Foto : Dokumen Pribadi ( Stefanus Ronaldo )


Senin, 11 April 2016

Langkah Vertikal ala Green Soldier Community


Press Release
Langkah Vertikal ala Green Soldier Community
Oleh : Stefanus Ronaldo/ 6PIK2/ 14130254
JAKARTA – Green Soldier Community (GSC) akan mengadakan sebuah Workshop dengan konsep yang sangat segar dan interaktif bertajuk “Anti Gravitation Plants” yang akan diselenggarakan pada Jumat,22 April 2016 di Bintaro Jaya Xchange Mall. Acara ini juga menyambut Hari Bumi yang memang tepat jatuh pada hari tersebut pula. Anti Gravitation Plants ditujukan untuk para generasi muda yang ingin menjadi duta-duta lingkungan hidup yang memiliki semangat tinggi akan perubahan dunia.
Illustarion Purpose Only : http://penyuluhanvertikulturaf12.blogspot.co.id/2015/05/vertikultur-solusi-bertanam-di-lahan.html

Workshop ini akan dihadiri Miss Earth 2015, Chelsea Jessica Sutanto dan Duta Nature Revolution, Kevin Indrawan. Mereka adalah sosok yang masih muda namun memiliki dedikasi yang tinggi terhadap lingkungan hidup. Terbukti dari pengalaman keduanya yang luar biasa. Seperti Chelsea yang sudah mewakili Indonesia dalam World’s For Nature Change 2016 dan Kevin yang sudah pernah melihat secara langsung perubahan iklim di Kutub Utara.
Pada Workshop tersebut mereka akan membagikan pengalaman mereka menjadi duta lingkungan hidup yang penuh dengan suka duka dan akan memberikan motivasi kepada para generasi muda untuk bisa perpikir kreatif untuk menyiasati lahan yang sempit untuk menanam tumbuhan dengan lahan vertikal.
Selain Interactive Workshop bersama 2 narasumber tersebut, yang paling menariknya akan ada demo tutorial menanam vertikultur bersama seluruh anggota Green Soldier Community dimana kita akan mencoba menanam dari botol daur ulang dan juga boleh membawa pulang tanaman yang telah kita tanam disana.
“Anti Gravitation Plants” memang ingin mengubah perspektif generasi muda yang tadinya hanya memikirkan hal-hal bersifat konsumtif dan individualistis menjadi lebih peduli akan lingkungan dan juga fokus akan penyelamatan lingkungan hidup yang semakin kritis karena pengaruh polusi udara dan pemanasan global.
Tidak lupa setiap peserta akan diberikan goodie bag berisi GSC Exclusive Tshirt, Buku “Anti Gravitation Plants” sebuah karya kolaborasi para duta GSC, dan juga Snack. Acara ini terbuka untuk umum.Untuk info lebih lanjut harap menghubungi contact person dibawah ini:

Contact Person:
Stefanus Ronaldo
Ketua Panitia Anti Gravitation Plants
0888-0123-4567
Stefanusronaldo.gsc.org

Sumber Foto :

http://penyuluhanvertikulturaf12.blogspot.co.id/2015/05/vertikultur-solusi-bertanam-di-lahan.html

Tidak Perlu Gravitasi Untuk Mengubah Dunia

Tidak Perlu Gravitasi Untuk Mengubah Dunia
Oleh : Stefanus Ronaldo/ 6PIK2/ 14130254

            Saat ini yang menjadi permasalahan utama di dunia, terutama untuk negara padat penduduk adalah tidak adanya lagi ruang hijau untuk menanam tumbuhan. Padahal semakin hari, bumi kita semakin merana dan memanas dengan adanya polusi udara dari asap pabrik dan kendaraan bermotor yang menyebabkan udara tidak layak lagi untuk dikonsumsi.
Jumlah oksigen semakin menipis, manusia semakin acuh tidak acuh dalam menatap bumi yang mereka tinggali ini, apakah kita sebagai manusia yang memiliki akhlak dan pikiran akan diam saja melihat keterpurukan dunia ini? Apakah kita rela melihat anak cucu kita menderita sedari lahir karena ketidakperdulian kita terhadap masa depan dunia ini?
Banyak yang sudah kebingungan untuk mengubah cara pandang masyarakat demi mengatasi masalah yang semakin runyam ini. Padahal sebenarnya ada sebuah cara yang cemerlang untuk mengatasi hal ini, yaitu dengan melakukan Verticulture. Sehingga gravitasi menjadi sebuah hal yang tidak diperlukan lagi untuk kita menanam karena kita  bisa menanam di lahan vertikal.



Green Wall Garden - Bintaro Jaya Xchange Shopping Mall


Menurut saya, cara ini merupakan salah satu jalan keluar yang kreatif dan tepat untuk mengatasi permasalahan bumi dalam usaha penyelamatan keberlanjutan lingkungan di masa depan karena Verticulture merupakan budidaya tanaman pada lahan bertingkat secara vertikal. Salah satu contoh nyata yang saya lihat di kawasan Bintaro Jaya, Jakarta Selatan adalah Green Wall Garden yang bisa kita jumpai menghiasi dinding gedung Bintaro Jaya Xchange Shopping Mall.
Tidak ada yang menyangka bahwa proses perawatan Verticulture terbesar di Indonesia tersebut bisa mencapai kurang lebih Rp 200 Juta sebulan! Saya salut dengan pendiri Mall tersebut karena tetap memperhatikan lingkungan disamping mendirikan pusat perbelanjaan. Tentunya hal tersebut menginspirasi kita untuk memulai menjadi verticulturist atau orang yang menjalankan sistem budidaya verticulture.
Media penanaman bisa dimana saja, di tempat-tempat yang masih terdapat ruang untuk menanam seperti di dinding rumah, pagar rumah, ataupun di atap dan jendela rumah Anda. Selain mampu memperindah tempat tinggal kita, menanam dengan sistem seperti ini juga membuat kita dapat menyadari bahwa sebenarnya masih ada banyak cara untuk menghijaukan kembali bumi kita.
Sebuah kesadaran yang terbersit di otak saya bahwa kita harus lebih fokus pada masa depan dunia ini. Kita harus sadar bahwa lingkungan hijau merupakan salah satu  penentu keberlangsungan kehidupan umat manusia di dunia ini. Tidak hanya manusia saja yang membutuhkan oksigen yang diproduksi oleh tanaman, semua mahluk hidup pun membutuhkannya.
Maka dari itu, tidak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak mulai menanam tumbuhan walaupun dimulai dari sebuah pot yang bisa kita buat sendiri dari botol bekas yang kita beri lubang dan kita tata sedemikian rupa agar dinding tempat kita menanam menjadi lebih indah setelah diberi tanaman vertikultur tersebut.

Green Wall Garden in San Vicente - Argentina
Tentunya tidak hanya Indonesia yang sudah menerapkan verticulture. Sebelumnya beberapa negara di belahan dunia lain  seperti di San Vicente dan Madrid juga sudah menyemarakkan keindahan tanaman tanpa gravitasi ini di seluruh sudut perkotaan. Bahkan gaya bertanam seperti ini sudah diprediksikan akan menjadi cara bertanam di masa depan.
Verticulture Garden in Madrid

Hanya satu kata yang bisa saya katakan, “Wow!” karena sebenarnya manusia sudah mulai menyadari akan pentingnya tanaman sebagai penyedia oksigen tunggal bagi umat manusia itu sendiri. Apakah Anda sudah siap untuk menyelamatkan bumi? Apakah Anda ingin membuat bumi menjadi planet yang lebih layak untuk ditinggali? Semua ada di tangan Anda. Tidak ada salahnya untuk menjadi seorang Verticulturist.

Karena pada akhirnya akan kita sadari bahwa sebenarnya kita tidak lagi membutuhkan gravitasi untuk menanam, kita tidak membutuhkan lahan yang besar, kita sebenarnya hanya membutuhkan niat dan keinginan yang kuat untuk menjaga lingkungan dan menciptakan sebuah tempat yang nyaman untuk anak cucu kita di masa depan  kelak. Mereka pastinya akan  merasa bersyukur bisa mengenal sebuah generasi yang sadar akan pentingnya tumbuhan bagi kelangsungan hidup masyarakat di masa depan dan satu hal yang perlu diingat, mereka tidak perlu gravitasi untuk mengubah dunia.

Sumber Foto :

http://www.indogreenwall.com/id/images/project/Bintaro-Jaya-Xchange-Mall/update-1/Bintaro%20Jaya%20Xchange%20Mall%20-%20Vertical%20Garden%20Terbesar%20Indonesia%20-%209a.jpg

http://www.indogreenwall.com/id/images/progress/bintarojaya/Bintaro%20Jaya%20Xchange%20Mall%20-%20vertical%20garden%204.jpg



https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/236x/25/c4/7d/25c47d201c32b44c626c879c85652113.jpg

https://img.buzzfeed.com/buzzfeed-static/static/enhanced/webdr03/2013/2/27/15/enhanced-buzz-8592-1361998216-15.jpg