Setelah mengunjungi SD Muhammadiyah, Kami mengunjungi Museum Andrea Hirata Namun laporan perjalanan saya disana akan saya kunjungi di lain waktu. Kali ini setelah saya mengunjungi museum tersebut, Saya mengunjungi sebuah Wihara yang menurut kawan dari tante saya merupakan wihara yang sudah sangat tua di Belitung. Tepatnya di Kampung Burung Mandi. Saya lalu menuju kesana dengan mobil.
Vihara Budhayana Dewi Kwan Im berada di kampung Burung Mandi yang
terletak di kabupaten Belitung Timur. Vihara ini bisa ditempuh dari
bandara Hanandjoeddin Tanjung Pandan dalam waktu sekitar 2 jam. Lokasi
vihara berada tidak jauh dari pantai Burung Mandi dan juga pantai Bukit
Batu. Bahkan pantai Burung Mandi bisa terlihat dikejauhan dari Vihara.
Vihara Budhayana Dewi Kwan Im didirikan pada tahun 1747.
Jadi Vihara ini berumur cukup tua lebih dari 250 tahun sudah berdiri
di Belitung. Kalau anda berkunjung ke provinsi Bangka Belitung ada dua
Vihara Dewi Kwan Im yang terletak di pulau berbeda. Vihara yang sedang
dibahas disini adalah Vihara Dewi Kwan Im yang berada di pulau Belitung.
Selain sebagai penghasil timah, dahulu Belitung juga dikenal sebagai
penghasil nikel pada masa Sultan Mahmud Badaruddin. Sultan ini adalah
salah satu pemimpin dari Kesultanan Palembang Darussalam yang menguasai
Belitung. Karena kekayaan sumber daya alamnya, penjajah Belanda merebut
pulau Belitung. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di pertambangan
nikel di Belitung, Belanda membawa banyak pekerja dari Tiongkok.
Kemungkinan para pekerja yang tinggal di kampung Burung Mandi inilah
yang mendirikan Vihara Budhayana Dewi Kwan Im.
Gapura Pintu Masuk Vihara Dewi Kwan Im
Vihara Dewi Kwan Im Diatas Tanah Berpunuk
Konon berdasarkan cerita, ada seorang nelayan yang menemukan patung
Budha Bodhisattva di pantai yang berada di kampung Burung Mandi. Ketika
ditemukan patung ini terbenam sebagian dalam pasir pantai. Patung yang
ditemukan oleh nelayan tersebut kemudian menjadi buah bibir masyarakat
sekitar yang akhirnya menyebar ke daerah lain.
Orang-orang yang mendengar cerita tersebut kemudian mengatakan, bahwa
itu semua adalah kehendak Yang Maha Kuasa. Penemuan patung Budha
Bodhisattva adalah pertanda baik yang bisa melindungi kampung mereka
dari pengaruh roh jahat. Sebagai wujud terima kasih, masyarakat sekitar
kemudian membangun Vihara disekitar lokasi penemuan patung yang sekarang
dikenal dengan nama Vihara Budhayana Dewi Kwan Im.
Ketika baru datang ke Vihara Budhayana Dewi Kwan Im di kampung Burung
Mandi, maka anda akan disambut oleh gapura berwarna pink dengan
sentuhan merah diatapnya. Didepan tiang penyangga gapura terdapat dua
buah patung hewan. Saya kurang tahu hewan didepan gapura ini disebut
dengan apa. Ketika anda masuk melewati gapura kedalam areal parkir, maka
sudah terlihat keindahan Vihara Budhayana Dewi Kwan Im. Vihara ini
didirikan diatas tanah yang lebih tinggi dari area di sekitarnya. Vihara
ini didominasi dengan warna merah dan warna pink. Ada beberapa tangga
yang bisa digunakan untuk naik ke vihara yang berdiri diatas tanah
berpunuk-punuk. Fondasi batu gunung yang dicat berwarna merah bisa
terlihat jelas menahan vihara diatas tanah.
Gazebo di Salah Satu Bagian Vihara
Patung Dewi Kwan Im
Pada bangunan utama Vihara Budhayana Dewi Kwan Im anda akan menemukan
sejumlah tiang penyangga berbentuk silinder. Pada beberapa tiang ini
terdapat ornamen berupa naga berwarna hijau yang melingkari tiang.
Kepala naga tersebut menyembul keluar dari tiang sehingga hampir
mencapai atap vihara. Anda juga akan menemukan beberapa lampion yang
tergantung di langit-langit vihara. Di bangunan ini terdapat altar
dengan empat buah vas kecil yang dipenuhi dengan bunga. Tepat ditengah
altar terdapat sebuah wadah dari kuningan tempat menaruh dupa. Tepat
dibelakang altar ini terdapat patung Dewi Kwan Im. Ada ornamen lampu
cantik berbentuk teratai di kedua sisi patung.
Pada salah satu bagian vihara Budhayana Kwan Im juga terdapat semacam
gazebo terbuka dengan atap bertingkat dua. Di puncak atapnya terdapat
sebuah bola berwarna merah. Di bagian bawah atap terdapat semua meja
semen. Diatas meja ini diletakkan sebuah guci kuningan tempat menaruh
dupa. Saya kurang tahu gazebo ini digunakan untuk persembahan terhadap
dewa apa.
Ada beberapa bangunan lainnya yang berada di Vihara Budhayana Kwan
Im. Bangunan tersebut salah satunya digunakan untuk beribadah kepada
Budha. Sementara banguanan yang lain digunakan untuk berdoa kepada dewa
laut bernama Toapekong kalau saya tidak salah tulis. Anda juga bisa
meminta pengurus vihara untuk diramal menggunakan sejumput bambu yang
berisi tulisan. Kumpulan bambu kecil ini akan diguncang-guncang dalam
wadahnya hingga beberapa bambu terjatuh. Nah, dari bambu yang terjatuh
itulah bisa terlihat peruntungan anda.
Dewi Kwan Im adalah Dewi yang terkenal dengan kasih sayangnya
terhadap manusia. Oleh karena itu Dewi Kwan Im juga mendapatkan julukan
Dewi Welas Asih. Berdasarkan ajaran yang berkembang terutama di Asia
bagian timur, nama Dewi Kwan Im dipercaya berasal dari Avalokitesvara
yang merupakan bahasa Sansekerta. Oleh karena itu diluar Indonesia, Dewi
Kwan Im juga dipanggil dengan nama Dewi Guanyin yang merupakan
terjemahan dari Avalokitesvara.
Kalau ingin melihat upacara peribadatan di Vihara Budhayana Dewi Kwan
Im, anda sebaiknya datang pada saat hari besar keagamaan. Karena pada
saat itulah vihara ini dipenuhi oleh pengunjung. Setelah selesai
mengunjungi vihara, anda bisa lanjut berkunjung ke pantai Burung Mandi
yang berada tidak jauh dari vihara. Jadi sekali jalan bisa langsung
mengunjungi dua objek wisata sekaligus di Belitung.
Tetap ikuti perjalan saya di "Dude also Write"